NIM : 12120210103
Kelas : C
Dosen : Dr. B. Almitra Irawati Budhyarto
Dalam pertemuan pertama kali ini kami membahas tentang apa itu estetika dan beberapa faktor pembentuk estetik. Etimologi, berasal dari bahasa Yunani kuno "aisthanomai" yang artinya mengamati dengan indera terkait dengan aesthesis, yaitu penerapan.
Beberapa definisi umum estetika, yaitu estetika merupakan ilmu pengetahuan tentang pengamatan inderawi, estetika juga merupakan renungan filosofis tentang seni atau filsafat seni. Estetika tidak hanya menyelediki yang indah, tetapi juga ada yang buruk. Estetika juga merupakan permohonan tentang cita rasa.
Estetika adalah teori-teori yang mengcakup penyelidikan tentang hal-hal indah, penyelidikan tentang prinsip-prinsip keindahan seni, dan pengalaman yang berkaitan dengan seni dan penciptaan.
Beberapa faktor pembentuk estetik, yakni kita adalah makhluk yang bertubuh (embodied beings). Kesimpulan pertama adalah pengalaman apapun, termasuk pengalaman estetis, berawal dari kenyataan bahwa kita adalah makhluk yang bertubuh. Kesimpulan kedua adalah yang dimaksud dengan "tubuh" terdiri dari lapusan indrawi/fisik dan mental/akal, oleh karena itulah kita adalah makhluk yang terus berubah. Dan kesimpulan ketiga adalah pengalaman estetis, sebagai pengalaman berubah dapat mendorong terjadinya transformasi. Faktor pembentuk estetik lainnya adalah kita merupakan makhluk yang kognitif (dapat berpikir).
Ada juga argumen-argumen yang menentang estetika, beberapanya adalah karena sifatnya fana (segala yang kita alami, terutama melalui indera), sifatnya ambigu dan tidak konsisten, cepat pintas dan hanya sejenak, dan sesuatu secara pasti dan persis seperti ilmu matematika, serta bersifat subjektif (soal rasa, ada hal-hal yang hanya bisa saya rasakan sendiri dan tidak bisa dibagi dengan orang lain, begitu juga sebaliknya.
Mengapa kita harus peduli estetika? Tentu saja itu karena kita adalah makhluk yang etis.
Apa yang bisa kita dapat dari estetika?
- Yunani kuno : Kosmosentrisme - Alam (kosmos) dianggap sakral dan menjadi acuan refleksi. Makrokosmos dan mikrokosmos.
- Abad pertengahan : Teosentrisme - Tuhan (Teos). Agama Kristen membuka pikiran baru dan sang ilahi menjadi acuan refleksi.
- Masa modern : Antroposentrisme - Manusia (anthropos). Manusia menjadi titik pusat penyelidikan filsafat. Dipicu oleh zaman renaisans di Barat.
- Abad ke 20 dan 21 : Teknologi informatika - Teknologi, informasi, dan simulasi digital sebagai komoditas. Kata kunci : simulacrum, simulasi digital, realitas virtual, hiper realitas, hologram.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar