NIM : 12120210103
Kelas : C
Dosen : Dr. B. Almitra Irawati Budhyarto
Pada pertemuan kali ini kami membahas tentang estetika Zen Buddhisme. Zen itu sendiri adalah gaya hidup, dan bukan hanya sesuatu yang harus dipelajari.
Berikut adalah kunci konsep estetikanya:
Wabi-sabi:
- Konsep estetika Jepang yang berpusat pada penerimaan akan ketidak kekalan dan ketidak sempurnaan sebagai sifat kehidupan.
- Dalam paham itu ini, keindahan sering dianggap bersifat "tidak sempurna, tidak kekal, dan tidak komplit."
- Konsep ini berkembang dari ajaran Zen Buddhisme mengenai tiga ciri khas kehidupan, yaitu ketidak kekalan, penderitaan, dan kekosongan atau kehampaan atas diri kita yang sejatinya.
"Though many people drink tea, if you do not know the wat of tea, tea will drink you up" - Rikyu (Biksu)
Toyobo tea-house di Kuil Kenninji, Kyoto. Dikatakan dibangun tahun 1587 oleh Rikyu.
Salah satu Tea Master yang terkenal dari kebudayaan Jepang adalah Murata Shuko di abad 15.
Wabi berarti ketidakberadaan atau kesederhanaan, artinya semua yang ada di tea-house ini tidak boleh berlebih, tidak boleh terlihat mewah.
Berikut adalah tujuh prinsip estetika wabi-sabi:
- Tiga prinsip kunci yang pertama adalah kesederhanaan, ketenangan, dan kealamiahan.
- Kesederhanaan adalah penerapan secara minimal dan sewajarnya. Tidak diperlukan lebih dari ini, melainkan hasil pengalaman estetis yang merendahkan.
- Ketenangan ini maksudnya merasa tersentuh dari dalam nurani, dengan rasa tentram dan bukan rasa yang meluap-luap atau heboh.
- Kealamiahan ini maksud menghindari sesuatu yang dibuat-buat atau dirancang menurut rencana seorang seniman berusaha untuk membuat karyanya untuk terlihat seakan telah selamanya menjadi baguan dari alam, seakan-akan tanpa adanya intervensi manusia. Karyanya (apakah sebuah taman, sebuah jalan setapak, atau sebuah pahar seakan dari kecelakaan alamiah)
- Dari wabu terdapat dua kunci, yaitu ketidak bergantungan dan kedalam halusan.
- Ketidak bergantungan ini adalah aspek yang memberukan sebuah karya rasa yang segar dan orisinil. Karyanya terlihat familiar, rapi tergantung pada hal apapun.
- Kedalam halusan adalah karya tersebut memiliki gaung dalam diri kita dan pada dirinya sendiri, dengan nuansa dan kemungkinan yang berlapis-lapis di satu sisi terselubung, namun juga terasa dengan jelas.
- Dari sabi terdapat dua prinsip kunci, yaitu sublimitas dan asimetri.
- Asimetri, yaitu menolak simetri pada bentuk dan keseimbangan, demi mematuhi alam. Ini bertolak belakang dengan estetika Barat, yang pada tradisinya mematuhi hukum simetri, seperti terlihat pada karya visual, sastra dan musik.
- Sublimitas adalah mencari inti sari yang paling esensial dari karya dan konteksnya. Yang tidak esensial dianggap membebani pemirsa dan mengganggu pengalaman.